Wednesday, 30 November 2022

Daftar Startup Yang PHK Karyawannya di 2022!

shopee,boostr,tools,shopee tools,shopee booster

Teknonisme.com – Startup PHK Karyawannya adalah fenomena yang biasa, karena bisnis acap kali memiliki pasang dan surutnya sendiri.

Namun, menjadi fenomena yang berarti dan ngeri, jika PHK ini terjadi dalam waktu yang nyaris bersamaan dan dalam waktu singkat!

Tentu ada faktor pemicu berupa iklim investasi yang kurang baik sehingga para startup harus merumahkan ribuan karyawanannya!

Daftar Tech Startup yang Pecat Karyawan

Berikut ini daftar tech startup yang harus merumahkan (PHK) ribuan karyawannya.

  1. Ruang Guru
    Startup yang mengambil ranah pendidikan sebagai model bisnis utamanya ini, sebelumnya digadang-gadang menjadi unicorn, karena pertumbuhan bisnisnya selama pandemi terjadi sangatlah luar biasa!
    Namun, kini ruang guru harus merumahkan ratusan karyawannya. Senada dengan yang diungkapkan oleh corporate communication dari Ruang Guru berikut ini:

    “Hari ini Ruangguru melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan sebagian pegawai Ruang guru. Terdapat ratusan pegawai Ruangguru yang terdampak dari pemutusan hubungan kerja ini,” ujar Gwen Corporate Communications Team Ruangguru, Jumat (18/11/2022).
  2. Zenius
    Sejenis dengan ruangguru, tech-startup Zenius ini, sama-sama menggarap ranah pendidikan sebagai model bisnis utamanya. Zenius memecat (PHK) 200 lebih karyawanannya!
  3. Pahamify
    Tidak seberuntung ruangguru & zenius, pahamify justru pamit dan menutup bisnis, serta tentu saja memecat seluruh karyawannya!
  4. LinkAja
    BUMN juga tidak resisten dengan badai PHK. Terbukti aplikasi dompet digital LinkAJA atau PT. Fintek Karya Nusantara (Finarya) harus merumahkan ratusan karyawannya!
  5. Tokocrypto
    Meski crypto dan mata uang digital sedang booming, namun perusahaan aplikasi Tokocrypto, harus merumahkan 45 orang karyawannya! Terlihat kecil jika dibandingkan startup-startup lain, namun rasionya adalah sekitar 20% dari total 227 karyawannya!
  6. Shopee Indonesia
    Sudah sejak bulan september, shopee memutuskan untuk merumahkan karyawannya.
    Head of Public Affairs (Kepala Hubungan Masyarakat) dari PT Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira, mengungkapkan kondisi ketidak-pastian 2023, membuat perusahaan ambil ancang-ancang untuk melakukan efisiensi.
  7. GOTO
    PHK 1.300 karyawan adalah jalan yang harus GOTO tempuh! GOTO sendiri adalah perusahaan merger antara Gojek (perusahaan penyedia layanan ojek) dan Tokopedia (perusahaan penyedia layanan marketplace online).
    CEO dari GOTO sampai menangis ketika mengumumkan hal ini, tentu bukan prestasi yang baik bagi perusahaan yang baru merger dan melantai di bursa harus mengambil langkah seperti ini.
  8. Jd.id
    Perusahaan marketplace Jd.id harus mengambil langkah efisiensi, demi tetap bisa bersaing di model bisnis yang sama dengan dinamika trend industri teknologi sejenis di Indonesia.
  9. Fabelio
    Fabelio atau  PT Kayu Raya Indonesia, mengumumkan status pailit sejak awal oktober 2022.
  10. TaniHub
    Tidak hanya mem-PHK karyawannya, namun tech startup lini bisnis agrikultur, TaniHUB, juga menutup layanan gudang mereka di Bandung dan Bali.
    “Betul bahwa saat ini TaniHub menghentikan operasional warehouse Bandung dan warehouse Bali,” Demikian menurut Senior Corporate Communication Manager TaniHub Group, Bhisma Adinaya.

Akankah Badai PHK Berlanjut?

Tidak ada yang tau! Namun, mengingat model bisnis tech-startup yang cenderung “bakar uang” hingga mengandalkan uang investor, bisa jadi badai masih akan berlanjut!

“Artinya, masa sulit akan mulai memasuki bisnis digital di tanah air. Tidak ada perusahaan digital, termasuk unicorn dan decacorn, yang kebal terhadap dampak kelesuan bisnis digital global. Yang bisa jadi ada kaitannya dengan ramalan bahwa 2023 akan jadi tahun berat, gelap dan resesi di mana-mana,” Ujar Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi.

Senada dengan heru, Eddi Danusaputro, selaku ketua AMVESINDO (Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia), memprediksi startup akan makin efisien hingga tahun depan.

Hal ini karena daya beli menurun yang berimbas pada menurunnya transaksi, hingga masalah pendanaan (investasi) yang makin sulit sebab adanya resesi global.


Cari Info Digital & Teknologi Lebih Banyak:

Comments

comments