Terlalu Sering Retweet Dapat Turunkan Daya Ingat




twitter

Pasti sebagai pengguna Twitter kita sering sekali me-retweet sebuah kicauan dari orang lain. Akan tetapi dalam sebuah penelitian baru-baru ini ditemukan akibat buruk dari kebiasaan kita me-retweet unggahan dari orang lain.

Dikutip dari tekno.liputan6.com, sekelompok peneliti dari Cornell University College menemukan bahwa kebiasaa me-retweet akan berdambak negatif pada kemampuan berpikir manusia. Penurunan daya ingat serta masalah dalam proses belajar menjadi dampak buruk dari kegiatan tersebut.

retweet

Salah satu fitur yang ada di Twitter adalah Retweet (image : pokerstars.com)

Kebiasan kita untuk me-retweet ternyata menyebabkan otak mengalami kelebihan beban kognitif yang akan berpengaruh kepada kemampuan penyimpana serta proses pembelajaran.

Menurut Qi Wang kepala penelitian ini, kegiatan me-retweet kicauan pada sebelumnya akan mengurangi kemampuan individual agar menghadirkan ide-ide segar. Keadaan tersebut selanjutnya sacara tak langsung akan berpengaruh kepada kinerja yang buruk.

Bersama dengan rekan-rekannya, Wang melakukan penelitian pada sejumlah mahasiswa di Tiongkok. Kemudian para responden tersebut dibagi menjadi dua kelompok dengan tugas yang berbeda untuk bereaksi pada media sosial serupa Twitter di Tiongkok, yaitu Weibo.

Untuk kelompok pertama diberi pilihan untuk me-retweet maupun sekedar membaca unggahan, untuk kelompok kedua hanya diperbolehkan untuk membaca tiap unggahan.

Setelahnya, masing-masing dari mereka diminta untuk menjawab sebuah tes online agar mengetahui kemampuan mereka dalam hal mengingat konten  yang dibaca maupun dibagi.

Hasilnya, untuk kelompok yang diperbolehkan untuk me-retweet unggahan ternyata mempunyai kemampuan yang lebih buruk dalam hal meningat konten. Para peneliti beranggapan bahwa buruknya kemampuan ini disebabkan oleh kelebihan muatan kognitif pada mereka.

Kelebihan ini diakibatkan oleh proses pemilihan untuk sekedar membaca maupun me-retweet sebuah konten akan berdampak negatif pada olah otak manusia. Untuk mencegah kesalahan dalam penelitian tersebut, Wang melanjutkan uji coba dengan tes tulisan.

Para responden diminta agar menjawab pertanyaan-pertanyaan agar dapat mengukur kadar stres kognitif dari masing-masing responden. Dan hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwasannya responden yang memilih untuk me-retweet sebuah unggahan lain akan mempunyai ketegangan kognitif yang lebih tinggi.

Comments

comments