Siapakah Perusahaan Dunia Maya Paling Untung?

Teknonisme.com – Pertumbuhan pendapatan iklan online global mencapai rekor 29,6 persen, kata perusahaan riset pasar Forrester, Selasa (12/12). Sedangkan, di antara capaian iklan online itu, Google dan Facebook mendominasi iklan online pada kuartal ketiga tahun ini.

Google sejauh ini merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan pasar, dengan pengeluaran tambahan mencapai  4,2 miliar dolar dibandingkan tahun lalu. Dengan tingkat pertumbuhan tahun ke tahun sebesar 21,4 persen, pertumbuhan iklan Google adalah yang tercepat dalam enam kuartal terakhir.

Forrester’s Digital Marketing Tracker mengamati 13 perusahaan, yang merupakan lebih dari 75 persen pasar periklanan online digital, mencakup Google, Facebook, Alibaba, Baidu dan Tencent.

“Saat ini, Google tampaknya menguasai dengan baik dalam tantangan seperti penempatan iklan YouTube yang tidak disengaja, di samping konten yang patut dipertanyakan, dan perambahan Amazon ke dalam iklan e-commerce,” tambah laporan tersebut.

Sementara, Facebook telah memperkirakan pendapatan iklannya melambat pada 2017. Namun yang terjadi, Facebook justru mendapatkan pertumbuhan yang kuat sebesar 48,8 persen, yang sejalan dengan kuartal sebelumnya dan sebenarnya sedikit meningkat dari 46,9 persen pada Q2 2017.

BACA JUGA:

Berbeda dengan Facebook dan Google, di Cina, Baidu menderita akibat meningkatnya peraturan pemerintah mengenai iklan terkait layanan kesehatan di search engine mulai bulan Mei 2016, menghasilkan penurunan per kuartal rata-rata 6,5 ​​persen.

Namun, sekarang tampaknya Baidu sedang berada di tren positif, dengan pertumbuhan 22 persen pada Q3 2017, dibantu oleh adanya pemulihan dalam pencarian dan monetisasi umpan berita yang kuat.

Snap, perusahaan induk Snapchat, terus mengalami kekecewaan dengan hanya meraih 0,5% ikaln di pasar global. Angka itu menurun tajam, menjadi 62,2 persen, setelah pertumbuhan rata-rata 329,9 persen pada empat kuartal sebelumnya.

Meskipun Jack Dorsey telah kembali lebih dari dua tahun yang lalu dan melakukan penerapan strategi untuk meningkatkan perumbuhan, Twitter tampaknya harus tetap berjuang, “Bahkan dengan konten video yang lebih banyak, tweet yang lebih panjang, dan pemantauan yang lebih baik, Twitter masih mengalami penurunan 7,7 persen di Q3 2017(yang merupakan penurunan kuartalannya yang keempat),” ujar Forrester, seperti dilansir Gadgets Now,  Selasa (12/12).

Video Terkait Siapakah Perusahaan Dunia Maya Paling Untung?

Baca juga artikel menarik lainnya terkait digital bussiness atau informasi teknologi lain di Teknonisme.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *