IPO Line Masih Tunggu Izin Sekuritas AS

Pertengahan Juni 2016 ini akan menjadi sebuah memontum bersejarah bagi media sosial Line. Layanan chatting yang berasal dari Jepang serta Korea Selatan ini akan segara melakukan penawaran saham umum perdana atau lebih dikenal dengan initial public offering (IPO).

Dikutip dari tekno.kompas.com, Line berencana untuk melantai di dua bursa sekaligus, yakni di Tokyo serta New York. Pengajuan izin untuk penawaran pun telah dilayangkan pada otoritas masing-masing, akan tetapi baru bursa Tokyo saja yang resmi untuk menyetujui langkah dari Line.

dhyoti
PR Director Line Indonesia, Dhyoti R. Basuki (image : tekno.kompas.com)

“Di Tokyo sudah di-approve per 10 Juni yang lalu,” kata PR Director Line Indonesia, Dhyoti R. Basuki, dalam sebuah media gathering di Sentral Senayan 3, Jakarta.

Sedangkan untuk bursa New York sendiri, berkas pengajuan dari pihak Line masih dalam proses di badan sekuritas Amerika Serikat. Menurut Dhyoti, untuk kepastiannya baru diketahui pada bulan Juli mendatang.

“Kami masih menunggu semua proses rampung,” imbuhnya.

Beberapa pihak telah memprediksi bahwa Line akan mendapatkan dana segar lebih dari 900 juta solar AS atau sekitar Rp 12 triliun pada pelemparan saham perdananya. Walaupun demikian Dhyoti belum mau untuk mengkonformasi prediksi tersebut.

Yang jelas dia menginformasikan bahwa IPO pada dua bursa tersebut bertujuan agar dapat mengukuhkan posisi Line di ranah internasional. Pasalnya sekarang ini pengguna dari Line masih terpusat di Jepang, Taiwan, Thailand, serta Indonesia.

Sedangkan Amerika serta Eropa masih didominasi oleh WhatsApp. Sedangkan untuk China masih mengandalkan WeChat.

“Kami mau go global, makanya kami ajukan IPO satu di negara asal kami, satunya di bursa global,” imbuh Dhyoti.

Diketahui sekarang ini jumlah pengguna aktif bulanan dari Line sekitar 218juta. Angka tersbeut masih terpaut begitu jauh bila dibandingkan para pesaingnya seperti WeChat dengan angka 650jutaan dan WhatsApp yang telah mencapai 1miliar.

Line ini resmi diluncurkan pada tahun 2011, pasca terjadiya gempa bumi serta tsunami yang melanda Negara Matahari Terbit. Bencana tersebut mengakibatkan adanya gangguan pada layanan telepon.

Setelahnya kepemilikan dari Line dipegang oleh Naver, perusahaan operator portal internet terbesar dari negara Korea Selatan.

Selain pesan teks, Line juga punya fitur untuk panggilan suara maupun video secara cuma-cuma. Sedangkan pendapatannya diperoleh dari penjualan aneka stiker, game, maupun penempatan iklan.

Pada tahun 2013 yang lalu, Line mencatatkan pendapat sebesar 34 miliar Yen (Rp 4,2 triliun). Sedangkan tahun lalu angkanya naik tiga kali lipat menjadi 110 miliar Yen atau sekitar Rp 13,7 triliun.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *