Google Doodle Peringati Kelahiran R.A Kartini

Kita ketahui bersama bahwa tanggal 21 April kita peringati sebagai Hari Kartini. Tidak ketinggalan Google Doodle juga ikut berpartisipasi dalam memperingati kelahiran Raden Adjeng Kartini yang ke 137 tahun, yang tepatnya pada tanggal 21 April 1879.

Dikutip dari tekno.liputan6.com, tampak ilustrasi dari wajah Kartini pada tengah-tengah kata ‘Google’ dengan menggantikan huruf ‘O’ kedua dengan latar belakang berwarna coklat. Dalam doodle ini tampak bahwa Kartini sedang memegang sebuah buku.

doodle Kartini
Bentuk doodle pada hari Kartini kemarin (image : makassar.tribunnews.com)

Lahir di Jepara, Jawa Tengah, wanita yang lebih kita kenal dengan nama Raden Ayu Kartini ini adalah salah satu tokoh wanita Jawa bahkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia yang menjadi pelopor kebangkitan dari perempuan pribumi pada masa itu.

Lahir di keluarga bangsawan dari ayah yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan M.A Ngasirah, Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Sampai berusia 12 tahun, beliau bersekolah di  ELS (Europese Lagere School) dimana Kartini belajar bahasa Belanda.

Mempunyai kemampuan untuk berbahasa Belanda, Kartini pun giat untuk belajar dan juga menulis surat untuk teman-teman korespondensi yang berasal dari negara Belanda.

Berakat salah satu teman korespondensinya yang bernama Rosa Abendanmon, beliau mulai mengenal bahkan tertarik dengan batapa majunya pemikiran perempuan di Eropa. Dan muncul pemikiran untuk memajukan perempuan peribumi yang pada masa itu masih punya status sosial yang rendah.

Dengan kegemaran membaca berbagai surat kabar, majalah serta buku pada akhirnya membuat beliau memberanikan diri untuk mengerimkan salah satu tulisannya untuk dimuat di De Hollandesche Lelle.

Passion Kartini agar dapat mengangkat derajat kaum perempuan tercermin pada berbagai tulisannya, yang mana beliau tak hanya membahas tenatang emansipasi wanita semata saja, akan tetapi juga membahas tentang masalah sosial umum.

Beliau menikah saat berusia 24 tahun dengan seorang bupati Rembang, yang bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, tak membuat keinginan beliau tentang kebebasan perempuan pudar.

Keinginanan tersebut didukung oleh sang suami, Kartini pun mendirikan sebuah sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, yang saat ini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Tak lama setelah melahirkan anak pertama sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojo Adhiningrat pada tanggal 13 September 1904, Kartini pun wafat di usia yang terbilang masih muda yaitu 25 tahun.

Walaupun demikian, berkat kegigihan beliau dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, mengetuk hati keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis untuk membentuk Yayasan Kartini.

Lewat yayasan tersebut didirikanlah Sekolah Wanita pertama di Semarang pada tahun 1912 yang disusul dengan daerah-daerah lain seperti Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan juga daerah-daerah lainnya.

Setalah wafatnya Kartini, Mr. J.H Abendanon pun mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah ditulis Kartini untuk teman-temannya di Eropa dalam sebuah buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht bila diartikan ke Indonesia ‘Dari Kegelapan Menuju Cahaya’ pada tahun 1991. Dan kembali dicetak oleh Bali Pustaka pada tahun 1922 dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran’.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *