Blokir Website Download demi kembangkan ekonomi kreatif, Efektifkah?




Tepat satu bulan yang lalu, yakni 19 agustus 2015 pemerintah melalui kementrian komunikasi dan informasi (KemKomInfo) melakukan blokir terhadap 22 situs berbagi unduhan film gratis dengan misi mulia: memajukan ekonomi kreatif melalui Film-Film buatan anak negeri.

Pemerintah berdalih bahwa situs-situs tersebut adalah biang keladinya ekonomi kreatif anak negeri tidak berkembang. Disebabkan Film Indonesia yang biasanya baru muncul di Bioskop, justru dengan mudahnya beredar via media online dan diunduh oleh jutaan pengaksesnya di Internet, hal yang sama terjadi beberapa tahun yang lalu dimana VCD dan DVD bajakan beredar di pasaran sehingga VCD/DVD original rendah peminat karena karya mereka bisa dinikmati dengan harga sangat murah, bahkan saking murahnya, dengan harga Rp. 5000,- saja mereka sudah bisa menikmati ratusan hingga ribuan koleksi mp3 atau movie.

Lantas kembali ke pembahasan awal, efektifkah pemerintah melakukan blokir terhadap situs download gratisan dengan harapan karya kreatif anak bangsa bisa lebih dihargai? atau justru langkah ini hanya merupakan langkah ‘namanya juga usaha’ yang tidak menyelesaikan akar masalah? untuk menjawab hal tersebut mari kita jabarkan dulu alasan mengapa download gratisan atau file bajakan bisa lebih ‘dihargai’  ketimbang karya original yang tentunya akan menjadi imbas positif bagi sang kreator karya tersebut.

Faktor Ekonomi

Tidak usah malu-malu mau apabila kita mengatakan kalau faktor ekonomi adalah hal utama dibalik maraknya pembajakan atau mental gratisan yang menggerogoti sebagian besar anak bangsa di negeri ini. Di negeri ini masih sangat kental hukum ekonomi yang berbunyi: Mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari seminim mungkin usaha (uang) yang harus dikeluarkan. Selain masih patuhnya kepada hukum ekonomi tersebut, kendala lainnya terkait ekonomi adalah masih buruknya kualitas pendapatan masyarakat kita yang menurut BPS tahun 2014 lalu sebesar Rp. 41 juta/tahun. Sekilas terlihat besar, namun jika dibandingkan harus membeli produk tersier dengan kualitas original? mungkin akan berpikir dua kali menimbang kebutuhan primer dan sekunder saja masih megap-megap, namun kebutuhan hiburan yang masuknya tersier juga tidak bisa menunggu.

Faktor Mentalitas

Faktor lainnya adalah masalah mentalitas anak bangsa yang masih sangat-sangat merendahkan karya bangsa sendiri, entah ini karena warisan kolonial inlander atau seperti apa? cukup banyak penulis amati, anak muda – anak muda yang mampu membeli lagu dari musisi asing via iTunes tapi justru mendownload gratis karya musisi dalam negeri, sebenarnya mampu membeli tiket nonton bioskop dan memamerkannya di jejaring sosial untuk film hollywood, namun malas menonton film dalam negeri di bioskop dengan alasan ‘ah nanti tidak lama juga akan muncul di TV’ atau ‘buat apa nonton film Indonesia, rugi, mending film hollywood lebih ngehits’.

Ada juga mentalitas gratisan yang lebih bangga mendapatkan karya dari channel gratis, lantas memamerkannya ke teman-teman dengan mengatakan ‘ah kalian kurang cerdas! ngapain bayar untuk hal yang bisa di dapatkan secara gratis?’

Faktor Distribusi Karya

Dua faktor sebelumnya lebih cenderung ke pribadi masing-masing anak bangsa, namun faktor yang satu ini mungkin saja pemerintah bisa mengatasinya: Faktor distribusi karya! Tidak perlu kita berdebat panjang, di Indonesia sendiri distribusi karya kreatif anak bangsa di bidang hiburan belumlah terorganisir dan terpusat dengan baik, Amerika patut berbangga dengan hadirnya iTunes dari pabrikan Apple, Indonesia? mungkin sudah ada beberapa musisi Indonesia dengan label tertentu yang berhasil mendaftarkan karya mereka di iTunes, namun apakah bisa dijamin seluruh karya anak bangsa masuk seluruhnya di platform musik terkenal itu? pun iTunes juga bukan untuk seluruh platform.

Faktor Kemudahan Pembayaran

Faktor yang satu ini masih berhubungan dengan faktor yang sebelumnya, distribusi karya. Taruhlah memang iTunes melalui kerja sama dengan pemerintah membuka ruang sebesar-besarnya yang memungkinkan seluruh karya anak bangsa terdaftar disana, namun masalah lainnya muncul: seberapa mudah pembayarannya? selama ini iTunes hanya menerima pembayaran melalui kartu kredit, lantas seberapa banyak akses anak bangsa dengan mode pembayaran yang satu itu?

Faktor Penegakan Hukum

Penegakan hukum atau law enforcement yang masih lemah juga menjadi permasalahan utama dari lemahnya apresiasi terhadap karya kreatif bangsa sendiri. Infrastruktur negeri ini sendiri telah cukup kuat fondasinya dengan undang-undang yang ada, namun justru masalah muncul pada pengawasan penegakan hukum itu sendiri yang masih dapat dikatakan lemah.

Setelah mengurai faktor-faktor permasalahan diatas, masih timbul pertanyaan: Benarkah memblokir situs yang hanya berjumlah 22 itu akan efektif menghentikan pembajakan dan mewujudkan misi mulia untuk mengembangkan ekonomi kreatif di ranah hiburan? ataukah itu merupakan langkah awal sistematis bagi pembuat dan pengeksekusi kebijakan di negeri ini untuk mulai mengurai ke-5 faktor diatas menjadi solusi komperhensif dan jangka panjang? Semoga saja!

Faris Biladi

Faris Biladi

"Verba volant, scripta manent"

More Posts Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle PlusYouTube

Comments

comments